Warisan Batavia
Berlokasi di kawasan utama Jakarta, Hotel Des Indes Menteng terinspirasi oleh kekayaan sejarah Batavia serta perpaduan keramahan modern dan pengalaman budaya yang memikat.
Mengusung warisan Batavia, hotel kami menghadirkan cerita sejarah kota melalui bangunan antik, suasana tenang di kamar, serta aroma menenangkan di setiap sudut hotel.
Dikelilingi taman indah, museum, galeri seni, kedutaan, bar, restoran, dan banyak lagi, Hotel Des Indes adalah tempat sempurna untuk beristirahat setelah hari yang panjang sekaligus merasakan ketenangan di tengah hiruk piruk kota.
Warisan Bersejarah Hotel Des Indes
Hotel Des Indes yang asli pernah menjadi salah satu hotel tertua dan paling bergengsi di Asia. Berlokasi di Batavia, Hindia Belanda, kini Jakarta, Indonesia, hotel ini menyambut begitu banyak tamu terkenal antara tahun 1829 hingga 1971.
Kisahnya dimulai pada tahun 1829, ketika Antoine Surleon Chaulan membeli sebuah properti yang sebelumnya digunakan sebagai sekolah khusus putri. Ia mengubahnya menjadi hotel dan menamainya sesuai tempat kelahirannya di Prancis: Hotel de Provence.
Pada tahun 1845, Etienne Chaulan membeli Hotel de Provence dari saudaranya, Antoine, melalui lelang seharga 25.000 gulden Belanda. Di bawah kepemilikannya, hotel ini dikenal sebagai pelopor dalam berbagai hal, termasuk memperkenalkan es krim bergaya Eropa ke Batavia.
Hotel Pertama yang Menyajikan Es Batu & Minuman Dingin di Indonesia
Di tengah panas tropis Indonesia, minuman dingin dapat menyegarkan tubuh dan pikiran. Namun, sedikit yang tahu di mana es batu pertama di negara ini disajikan.
Pada tahun 1846, sebuah kapal Amerika membawa kiriman es pertama ke Indonesia. Sebuah kemewahan unik yang memicu rasa penasaran dan menjadi perbincangan di kalangan warga Batavia. Saat itu, minuman dingin dan es batu hanya dinikmati oleh kalangan atas, khususnya di kawasan Batavia. Pada Malam Natal tahun yang sama, Hotel Des Indes yang asli menjadi hotel pertama di Indonesia yang menyajikan es batu dan minuman dingin untuk para tamunya.
Pada tahun 1851, hotel ini dibeli oleh Cornelis Denninghoff, yang kemudian mengganti namanya menjadi Hotel Rotterdam. Meski berada di lokasi strategis di dekat elite Harmony Society dan penjahit Prancis ternama Oger Frères, prestise hotel ini perlahan memudar. Setahun kemudian, hotel ini diakuisisi oleh staf asal Swiss, François Auguste Émile Wijss.
Pada tahun 1856, berkat dorongan dari sahabat dan tamu setianya, penulis ternama Eduard Douwes Dekker — Wijss memberi hotel ini identitas baru dengan mengganti namanya menjadi Hotel Des Indes. Hingga kini, warisan tersebut kami bawa ke hotel masa kini, termasuk menghadirkannya ke dalam Harmonie Lounge & Bar, nama yang terinspirasi dari “Harmonie”, tempat berkumpul bergengsi pada masanya.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Di hari-hari terakhir menjelang kemerdekaan Indonesia, suasana kota Batavia dipenuhi antusiasme — dan Hotel Des Indes yang asli, yang terletak di jalan Gajah Mada, sempat menjadi bagian dari momen bersejarah tersebut. Banyak anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menginap di hotel ini, menjadikannya pilihan alami untuk menyusun naskah Proklamasi.
Namun, peraturan ketat pemerintah militer Jepang yang memberlakukan jam malam pukul 22.00 membuat pertemuan tidak dapat dilaksanakan di hotel. Akibatnya, penyusunan naskah Proklamasi dipindahkan ke kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Meiji Dori Street, yang kini dikenal sebagai Jalan Imam Bonjol, Jakarta
Meneruskan Warisan
Meski Hotel Des Indes yang asli kini menjadi bagian dari sejarah, nama dan semangatnya tetap terpatri dalam kisah Jakarta. Saat ini, Hotel Des Indes Menteng, Marclan Collection meneruskan warisan tersebut — menghadirkan kembali keramahan yang hangat, pesona abadi, dan nilai budaya yang menjadikannya ikon pada masanya.